Piala Afrika 2008, yang baru dimenangi oleh Mesir, dinilai memuaskan jika dilihat dari performa kontestan. Dari segi permainan, ada peningkatan kualitas. Tapi di luar itu, kinerja panitia mendapat kritikan.
Di turnamen tahun ini, beberapa pemain muncul menjadi bintang dan bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Pertandingan juga disiarkan ke seluruh dunia dan menghasilkan 99 gol dalam 32 pertandingan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah rekor penyerang Kamerun, Samuel Eto’o, yang mencetak lima gol di turnamen tahun ini. Dengan demikian pemain Barcelona itu sudah mencetak 16 gol selama tampil di Piala Afrika, sebuah pencapaian yang kembali akan sulit dipecahkan. Di bawah Eto’o, muncul nama pemain Angola, Manucho. Pemain milik Manchester United itu mencetak satu gol lebih sedikit dari Eto’o di turnamen tahun ini.
Selain itu, Mesir juga melahirkan bintang. Kiper Essam Al Hadari menunjukkan talentanya menjadi pengawal gawang kelas dunia. Sedangkan rekan setimnya, Hosni Abd Rabou, menampilkan permainan menawan di lini tengah.
Stadion Kosong
Malangnya, seluruh pencapaian di lapangan tak diwarnai oleh maraknya penonton. Hampir di semua pertandingan hanya dihadiri sedikit penonton. Panitia dinilai gagal memancing publik lebih banyak untuk hadir ke stadion. Publik hanya mau berbondong-bondong ke stadion saat Ghana tampil. Bahkan untuk laga finalpun, jumlah penonton tak signifikan.
Situasi ini dikhawatirkan bakal mengancam kelangsungan turnamen di masa depan. Jika sepi penonton, sponsor disangsikan ragu mendukung.
Untuk urusan stadion, panitia mendapat poin bagus. Semua stadion, dua di antaranya dibangun dengan bantuan China, sangat impresif. Tapi infrastruktur lain sangat disayangkan.
Para pemain Afrika Selatan, misalnya. Mereka terbiasa menginap di hotel berbintang lima dan dipimpin oleh pelatih asal Brasil yang pernah menjuarai Piala Dunia, Carlos Alberto Pareira. Namun panitia justru mengirim mereka ke hotel bintang dua di Tamale di mana banyak kambing berkeliaran di jalan depan hotel.
Pelatih Kamerun, Otto Pfister, juga sempat berang dengan perlakuan panitia terhadap timnya saat harus menunggu sekian jam sebelum melakukan perjalanan sejauh 380 km dari Kumasi ke Tamale.
“Ini bencana. Saya tidak tahu apakah ini Piala Afrika atau turnamen anak-anak,” ujar pelatih asal Jerman itu.
Uniknya, salah satu kritik justru datang dari pelatih tuan rumah, Claude Le Roy. Pelatih asal Prancis itu menyebut lapangan di Stadion Obeje Djan, Accra, adalah sangat buruk. “Selama 20 tahun berkarir di Afrika, baru kali ini saya lihat lapangan sangat buruk.”
Le Roy menilai panitia hanya mementingkan tamu undangan dan bukan pemain atau sporter. “Satu-satunya yang berkualitas hanyalah kursi VIP, sedangkan kualitas lapangan kebalikannya,” pungkasnya. (Hdn/Reuters